ika's posts with tag: japanese life
 Yaki Soba, Yaki Soba, kubaca berulang-ulang papan nama sebuah kedai ketika kami sedang menikmati hanami di Hachiman Yama Koen. “Kenapa sih disebut Yaki Soba,” protesku ke suami dan beberapa sahabat. “Heran,…padahal sudah jelas yang dipake mie warnanya kuning, sejenis ramen kali ya….kalo soba pasti warna mienya coklat…, kenapa?” tanyaku lagi. “Ndak tahu ya….,” kata suamiku, belum sempat ditanyain gurau suamiku. Pertanyaan diatas menjadi salah satu keherananku ketika kutinggal disini….Belum lagi yang lainnya yang juga menjadi pertanyaanku. Ketika melihat sebuah konser anak2 di VCD yang kupinjam dipersewaan, dengan judul “Ippai Machigai” Saat lampu traffic light menyala, anak2 disodori pertanyaan warna apa yang lagi menyala…. Mereka menjawab, “aoi….” “Aoi...aoi...,” teriak mereka lagi. Aku jadi mengernyitkan dahi,.....Ehmmm aoi aoi...biru, biru ..Harusnya khan midori!! Padahal lampu rambu lalu lintas yang menyala kali ini berwarna hijau. Belum lagi mana ada lampu lintas warnanya biru di penjuru dunia. Yang ada, lampu lalu lintas cuman warna hijau, merah dan kuning. Cuman dijepang aja, yang nyebutin warna hijau dengan sebutan biru kalo soal lampu lalu lintas. “Ha..ha ...ha..kayak orang madura aja ya,” tertawa tergelak-gelak aku. Maklum kadang tante atau oomku yang lahir di Sampang, Madura sering kepleset nyebutin hijau dengan sebutan biru ketika menyebut warna sebuah benda. Tapi tentunya tidak dengan warna rambu lalu lintas lho....bisa2 enggak lulus ujian SIM. He..he....he...kali ini orang jepang sama dengan orang Madura atau sebaliknya ya??? Utsunomiya, 25 April 2008 Note Yaki soba-mie goreng Hachiman Yama Koen-sebuah taman di Utsunomiya, yang rame dikunjungi ketika hanami Hanami-menikmati sakura Soba-sejenis mie berwarna coklat Ippai machigai-banyak yang salah Aoi-biru Midori-hijau
 “Tadi malam, pengajiannya banyak yang datang ya?” tanyaku ke suami, tadi pagi ketika sedang menyiapkan sarapan pagi. “…..Alhamdulillah, miracle,….kali ini yang datang pengajian banyak lho….” jawab suamiku. “….Orang Malaysia aja dah 6 orang, belum dari Indonesia, Bangladesh, Canada, Mauritania, Egypt....kalo diitung–itung ada 12 orang,” sahut suamiku lagi. “ Banyak juga, ..padahal kemaren hujan seharian ya…,” selorohku. Maklum pengajian yang diadakan UMA ( Utsunomiya Muslim Assc) yang mayoritas mahasiswa Utsunomiya Universitas dilakukan setiap kamis malam sering kali diikuti cuman 3 orang. “ Trus disuguhi apa, setelah pengajian?”, tanyaku lagi…maklum kemaren yang jadi tuan rumah orang Malaysia yang belum married. Jadi dah bisa kebayang kalo laki2 single yang jadi tuan rumah, pasti beli makanan kecil di toko, tuk disuguhi ke tamu “ Roti bakar…ehmmm enak..., rotinya pake roti perancis yang panjang trus pake tarako diolesi ama mayoness dan saus tomat. O,ya diberi ritas dan tomato,….,”jawab suamiku. “Pokoknya enak,” kata suamiku lagi… “Tapi herannya, kita2 kok bilang ehmmm oishi….., padahal banyak yang ngambil lebih satu,” kata suamiku. “Tentu yang bikin roti bakar pasti senang denger pujiannya....Lha wong memang benar2 oishi.....”,ujar suamiku lagi “Ya, begitulah kita kadang2 enggak seekspresif kayak orang jepang,” sahutku. “Apa karena laki2 ya.....malu meekspresikan kelezatan roti bakar ya?” tanyaku. “ Orang jepang, walaupun laki2....biasanya bilang umaiiiii....kalo hidangan itu lezat. Coba lihat di TV!!...Kadang2 dengan gerak bibir, mata dan bahasa tubuh lainnya yang diekspresifkan...,”kata suamiku lagi. “Itu masih soal makanan. Coba kalo orang jepang ikutan perlombaan, dan misalnya kalah, mereka menangis karena merasa sudah semaksimal mungkin tapi kalah....dan kalo diinterview... ngomong zannen, mata ganbare... ,” kata suamiku. “He...jadi inget 4 tahun lalu.....disaat aku keguguran hamil 2 bulan, sensei-sensei bahasa jepang ikut menangis terharu mengetahui keguguranku, padahal mereka bukan famili kita ya,” kataku. “Ya, begitulah orang jepang, ekspresif ya..”jawab suamiku lagi. Utsunomiya, 25 April 2008 Note Oishi,Umai...lezat Tarako...sejenis telur ikan Ganbare...berjuang sekerasnya Ritas..lettuce Tomato...tomat
 Ketika transit di Denpasar dalam perjalanan menuju ke Sydney, kulihat beberapa toko yang menawarkan hidangan dengan bermacam harga yang bervariasi. Karena mayoritas orang yang transit di Denpasar orang luar negeri, tidak heran tersedia beberapa hidangan ala luar negeri, sebut aja Soba dan Udon. Masakan ala jepang ini, yang biasa di Jepang cuman seharga 400 yen, di Denpasar paling murah seharga 80.000 rupiah. Mungkin karena bahan2nya yang harus diimpor dari jepang, sehingga membuat harga soba dan udon jadi mahal daripada tempat asalnya. Tergiur saya tuk mencoba masakan Indonesia, bakso dan nasi opor. Rasanya sudah lama saya tidak merasakan masakan ini. Walaupun harganya 3 kali lipat, dibandingkan dengan harga yang dijual diluar airport sana. Tetapi cukup menggoda selera untuk mencobanya. Saya juga sempat terperanjat ketika mengetahui harga pocari sweet kalengan, yang biasa dibeli luaran sana seharga 3500 rupiah, bisa jadi 20.000 rupiah. Wisatawan dari Jepangpun sempat terperanjat melihat harga minuman softdrink di Denpasar airport. Kulihat, mereka sampai tidak jadi membeli, entah karena terlalu mahal daripada diluar airport atau mungkin karena sudah mau balik ke Jepang, sehingga mereka bawa uang sisa yang tinggal sedikit yang tak cukup untuk membelinya. Karena sempat terlihat, pria itu memegang uang lima ribuan ditangannya.... Ternyata beda dengan harga barang2 yang dijual di Narita airport, yang harganya enggak seberapa beda jauh dengan yang dijual diluar airport. Kayak gantungan kunci di Asakusa(salah satu tempat wisata di Tokyo), hampir sama harganya di Narita airport.
 Seperti biasa terdengar teriakan ”Irrasyaimase” dari penjaga sebuah toko atau restoran, ketika seseorang memasuki toko ato restorannya. Bagitu pula, ketika konsumen akan membayar, pelayan toko mengucapkan omatase simasita......yang maksudnya maaf, telah membuat anda menunggu. Setelah mbayar barang yang dibeli, pelayan toko mengucapkan lagi mata okosi kudasaimase....yang artinya silahkan datang lagi ketoko kami. Belum sampai kepintu keluar, mereka rame2 meneriakkan Arigato Gozaimasita (terima kasih) pada konsumen yang sudah membeli.. Belum lagi, pelayanan mereka yang memuaskan konsumen sehingga enjoy untuk berbelanja. Ceritanya, saya pernah ke Hard Off(toko second hand) untuk membeli kaset. Karena di Hard Off, tidak ada alat untuk mendengar lagu yang ada didalam kaset, akhirnya dibayarlah kaset itu, setelah membaca judul lagu di sampul kaset yang menarik. Ternyata sesampai dirumah, lagu yang ada di kaset tidak sesuai dengan yang ada di sampul kaset. Keesokan harinya saya balik ke toko kemaren. Sebelumnya saya berpikir, sulit untuk bisa ditukar, karena tidak ada perjanjian terlebih dahulu apabila ndak sesuai, bisa ditukar atau tidak seperti layaknya beli barang di Indonesia. Ternyata diluar dugaan, pihak toko meminta maaf dan menukar kasetnya. Saya sempat berpikir, gimana kalo di Indonesia, bisa aja kaset yang sebenarnya sudah sesuai, tapi konsumen menukar dengan kaset yang lain dan minta ganti lagi toko dengan yang sesuai.. Ya, begitulah kujujuran disini masih tinggi…sehingga pihak toko percaya dengan apa yang dikomplainkan konsumen. Ada cerita lain dari teman sewaktu beli roti buatan toko tersebut. Teman mengambil roti seperti tertera dipiring tersebut, Cheese Cream yang kemudian segera dibayarnya dikasir. Setiba dimobil, digigitnya Cheese Cream yang ternyata isinya bukan seperti yang tertera tadi, melainkan berisi udang padahal dia alergi. Karena masih diparkiran toko tadi, dia balik lagi masuk ke toko tersebut tuk komplain. Ternyata mereka meletakkan roti di tempat yang salah. Enggak cuman kata maaf dengan kepala tertunduk yang terlontar dari mulut pemilik toko tersebut, tidak lama berselang setiba dirumah, teman saya ditelpon pemilik toko, tuk menanyakan gimana kondisinya. Bisa dibayangkan betapa seorang konsumen sangat diperhatikan. O,ya kalo di Jepang, sewaktu memilih-milih barang dan ternyata enggak cocok dengan kita, yang akhirnya kita enggak jadi beli, penjaga ato pemilik toko tetap bersikap welcome, tidak dengan muka yang cemberut. Beda dengan yang dialami saya sewaktu di Indonesia, ketika mencari benang untuk patchwork. Kemudian penjaga toko mencoba mencarikan warna yang sesuai dan berkali-kali dia membungkukkan badan tuk mencarinya di tempat pajangan. Ternyata warna yang saya inginkan tidak ada. Dengan ogah2an penjaga toko menyodorkan beberapa benang diatas meja, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan warna yang diinginkan. .
 Kuamati ruang tunggu di salah satu klinik bersalin terkenal di Utsunomiya. Sebagian besar wanita-wanita hamil itu menunggu giliran masuk ruangan dokter tanpa ditemani suami. Memang sih, waktu itu hari kerja, yang mana suami2 mereka harus masuk kerja. Maklum klinik bersalin disini rata-rata buka di pagi hari sampai sore hari, yang memaksa mereka pergi ke klinik tanpa suami. Biasanya, wanita-wanita hamil tersebut datang dengan mengendarai mobil sendiri. Kalo sudah hamil besar (mendekati lahir), mereka ditemani ibunya untuk memeriksa kandungan. Yang agak meringankan mereka, mobil2 tersebut mobil otomatis, sehingga enggak usah nginjak pedal tuk ganti persnelling. Pengalaman sensei bahasa jepangku ketika anaknya sakit juga sedikit banyak membuat aku harus mangaca. Begini, ketika anaknya sakit yang waktu itu suaminya lagi bekerja, memaksa dia harus segera bertindak sendiri. Menelpon suami, tidak dilakukannya mengingat urusan keluarga bukan urusan kantor, yang merupakan kebudayaan orang jepang. Kalo menelpon kantor suami, pasti sangat mempengaruhi konsentrasi suami dan juga akan mempengaruhi penilaian atasan kalo sering ijin. Selama bisa diatasi sendiri (begitu kata orang tua mereka), wanita2 jepang akan mengatasi sendiri. Biasanya mereka akan memberitahukan kalo anak mereka habis dibawa kedokter, setiba suami mereka dari kantor. Satu lagi, di rumah orang jepang acapkali tidak ada pembantu rumah tangga. Alasan mereka karena upah untuk menggaji pembantu rumah tinggi, yang mau enggak mau mereka harus mengurus semua urusan rumah tangga. Padahal wanita-wanita tersebut juga harus bekerja diluar untuk menambah penghasilan rumah tangga. Kalo suami mereka mempunyai penghasilan cukup, mereka yang semula bekerja memutuskan berhenti kerja selagi anak2 mereka masih kecil dan setelah anak2 besar, mereka bekerja lagi. Memang disini, lapangan pekerjaan tersedia seluas-luasnya, hanya orang yang malas bekerja saja yang ndak dapat penghasilan.
 Semenjak tinggal Jepang, kuamati di TV ternyata enggak ada iklan susu bayi. Enggak cuman itu, perlengkapan bayi kayak pempers dan lainnya juga susu ibu hamil enggak ditemui di TV. Memang sih kalo ditoko perlengkapan bayi ato supermarket, bisa ditemui susu bayi, makanan bayi dan perlengkapannya. Di klinik bersalin, dimeja sering tersedia beberapa majalah yang berisi iklan perlengkapan bayi. Tapi untuk susu ibu hamil, setelah kuamati ditoko juga enggak ada. Enggak tahu kenapa??? Untuk susu bayi, menurut teman disini, susu bayi disini dianggap mempunyai kandungan yang sama walaupun merknya berbeda, jadi enggak perlu sampai diiklankan di TV.
 Rani datang sambil bersungut-sungut setiba dirumahku. “Ada apa Ran?“ tanyaku. ”Itu mbak, masak aku disuruh ngangkat sendiri yang namanya mesin cuci” kata Rani. ”Lho, emangnya kenapa?” tanyaku lagi. ” Iya, tadi khan beli mesin cuci second hand di Uday, trus begitu selesai mbayar…ternyata harga segitu ndak pake dianter sampe rumah. Mau diantar, ya nambah lagi mbak, kurang lebih ya sama dengan harga mesin cucinya. Khan sama aja boong.Dan yang paleng sebelnya, penjual tokonya cuman bilang itu gerobaknya(alat tuk nganter barang) tanpa membantu mengangkat mesin cuci yang kubeli tadi kegerobak ” kata Rani.. ”Tega juga ya mereka enggak mbantuin ngangkat, padahal khan yang beli cewek” kataku. ” Masih untung, waktu beli ditemani ama Ina dan apatoku enggak seberapa jauh ” kata Rani. Ternyata enggak cuman pengalaman seperti yang dialami Rani, saya juga melihat pengemudi truk dan kuroniko (nama ekpedisi pengiriman barang yang ada di jepang) ada juga yang perempuan. Mereka mengangkut barang sendiri yang berat tanpa ditemani kernet. Note: Utsunomiya Daigaku (Utsunomiya University)
 Beberapa hari tiba di Jepang di tahun 2003, temen Jepang ngajak ke “Makudonarudo”. Karena baru aja tiba di Jepang, saya mengira pasti mau dikenalkan suatu tempat yang khas jepang. Ternyata dia mengajak saya ke restoran cepat saji yang biasa kutemui juga di Indonesia, yang mana logonya sama dengan “Macdonald”. Karena waktu itu baru aja belajar bahasa jepang, pelan-pelan kueja tulisan bahasa jepang (dalam katakana) yang ada di papan nama restoran tadi. Ternyata tertulis マクドナルド (Makudonarudo) di papan nama tersebut. Tersenyum-senyum saya dalam hati…Baru nyadar kalo orang jepang tidak bisa membaca huruf mati dan ada beberapa huruf yang tidak ada dalam kamus mereka. Seperti huruf L yang biasa dibaca dengan huruf R. Maka tidak heran, beberapa nama orang Indonesia yang dieja ama orang Jepang, jadi amburadul. Kayak saya punya teman, yang namanya Narti jadi dipanggil Naruti. Trus Shiddiq dipanggil mereka dengan Shidikku.... Ternyata enggak cuman Macdonald yang jadi korban disini, tapi juga beberapa kata lain. Seperti Bed, dieja ama mereka menjadi Beddo (ベッド), Knife, dieja jadi Naifu (ナイフ). Box dieja jadi Bokkusu (ボックス). Ya, beginilah bahasa inggris yang dijepangkan. Padahal orang jepang juga punya istilah sendiri, misalkan Box, bahasa jepangnya Hako (はこ). Mau enggak mau saya yang pendatang di Jepang, harus berpikir keras mendengar orang jepang ngomong bahasa Inggris, karena ya itu beberapa kata bahasa Inggrisnya jadi asing didengar. Teman dari Korea yang udah pintar menggunakan bahasa jepang pernah berbincang-bincang dengan teman jepang. Katanya, kalo memang pendatang (non Jepang) agak sulit mengerti bahasa inggrisnya orang jepang, sebetulnya enggak usahlah menjepangkan bahasa Inggris.
 Gyoza (dalam bahasa jepang), yang dalam bahasa cinanya Jiaozi, merupakan makanan yang kulitnya terbuat dari semacam pangsit rebus (syomay) yang isinya dari sayuran (kol,kucai, jamur dll) dan daging (bisa seafood) yang dicincang. Biasanya kalo mau makan dicocol dengan kecap asin yang sudah diberi sedikit minyak wijen dan cabe. Tapi kali ini, aku ndak membahas masalah gyoza yang enak kalo dimakan, tapi gyoza yang beracun. Kabarnya, kemaren beberapa stasiun TV di Jepang membahas gyoza yang beracun ini. Masalahnya kali ini menimpa gyoza bukan buatan jepang melainkan yang diimpor dari Cina. Produk reto sokuhin (makanan beku) ini, kabarnya tercemar bahan kimia, obat hama yang dipake mengusir hama di sayuran. Beberapa korban merasakan gejala-gejala seperti orang mabuk setelah makan gyoza., Malah anak perempuan umur 5 tahun diberitakan masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan dirumah sakit. Seketika itu, importir jepang, menarik semua produknya dari supermarket dan membuat jumpa pers untuk minta maaf dan menyelidiki kejadian ini. Ternyata peristiwa ini tidak hanya terjadi kali ini, tetapi tahun 2007 diberitakan juga kalo unagi (belut), pasta gigi dan nabe dari Cina juga tercemar bahan kimia.. Yang salut dari kejadian ini, importirnya segera mengambil tindakan, menarik semua produknya, meminta maaf dengan membuat jumpa pers. Mereka tidak berkilah, kalo mereka hanya mengimpor produk tersebut dari Cina, tanpa menarik dan meminta maaf. Tetapi mereka berbuat sebaliknya. Begitulah di Jepang, kalo berbuat kesalahan yang mengakibatkan kerugian orang, segera meminta maaf dengan sungguh2. Info mengenai apa yang dinamakan Gyoza, bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Jiaozi Utusnomiya, 31 Jan 2007
 Dari milis sebelah.....
Subject: Oleh-oleh dari Jepang (judul asli) Penulis:Yuli Setyo Indartono (Mahasiswa S3 di Graduate School)
Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.
Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.
01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah m eli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan- jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa m eli hat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.
Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam- dalam dengan pola serius utuh dis eli ngi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.
Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.
Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang- orang yang kurang beruntung.
Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana .
Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut m eli hat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat.
Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kek eli ruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.
Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.
02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami memb eli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa),
karena kami sudah m eli hatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.
Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero
Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pemb eli terhadap transaksi jual-b eli .
Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket m eli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).
Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda b eli .
03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya m eli hat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu m eli hat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
04.Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta.
Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
05.Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya.
Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat.
Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar- benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.
Saling percaya adalah kuncinya.

| |