ReviewReviewReviewReview"Ma'afkan ayah anakku..." Jan 9, '08 9:08 PM
for everyone
Category:Other
Dari email tetangga,......semoga bermanfaat.

"Ma'afkan ayah anakku..."
Oleh: Tidak Diketahui


Sebuah kisah yang harus kita ketahui bersama untuk dapat diperhatikan. ..

Ini ada bahan untuk bahan renungan bagi kita semua yang barangkali ada yang
kelupaan pada kata yang satu ini, yaitu : MA'AF.

Jam sudah menunjukkan angka sebelas ketika aku duduk merebahkan diri di
ruang tengah. Tentu saja istri dan anakku Aisyah sudah tertidur lelap. Tapi
kenapa pintu kamar Aisyah masih terbuka? Aku tertegun saat berdiri di depan
pintu kamar Aisyah. Aisyah tertidur di meja belajarnya ditangan kanannya
masih memegang pinsil dan sepertinya ia menulis sesuatu di buku tulisnya dan
ada segelas kopi.

"Tumben anak ini minum kopi," pikirku.

Kuangkat dia ketempat tidur. Kubereskan meja belajarnya yang berantakan,
namun sebelum aku menutup buku tulisnya aku ingin melihat apa yang ditulis
Aisyah. Aku tertegun sejenak saat membaca tulisan-tulisannya, ternyata
semuanya cerita tentang diriku. Sampai akhirnya aku membaca 3 lembaran
terakhir yang sangat menyentuh hatiku.

Di lembaran pertama dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi menemaniku ke
toko buku, mungkin ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti
dengan kesibukanmu ayah."

Aku jadi ingat beberapa minggu yang lalu Aisyah mengajakku ke toko buku, aku
ingat sekali gaya bicaranya yang polos.

"Ayah nanti sore ada kegiatan nggak sih," sapa Aisyah saat aku akan pergi
kerja.

"Ada apa sayang," jawabku.

"Ayah mau nggak menemani Aisyah ke toko buku?"

"Kalau ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan menemani kamu yach".

"Terima kasih, ayah," ucap Aisyah dengan wajah yang sangat gembira sambil
mencium pipiku.

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.

Di lembaran kedua dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi lagi menemaniku ke
toko kaset, padahal aku ingin sekali mendengar lagunya Sulis dan memutarnya
di kamarku saat aku sedang sendiri agar aku tidak merasa sunyi. Sebenarnya
aku mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali ditemani ayah. Tapi lagi-lagi ayah
sibuk".

Dan aku ingat lagi kalau Aisyah memang pernah mengajakku menemaninya membeli
kaset.

Kalau dia ingin mengajakku dia selalu bicara seperti ini, "Ayah nanti sore
sibuk nggak atau Ayah nanti sore ada kegiatan?"

Bahasa yang sopan sekali menurutku sehingga aku tidak bisa untuk mengatakan
tidak walaupun terkadang aku tidak bisa memenuhi keinginannya.

Di lembaran terakhir dia menulis : "Hari ini dan untuk kesekian kalinya ayah
tidak bisa menemaniku. Tadi aku mengajak ayah ke pasar malam padahal ini kan
hari terakhir ada pasar malam di komplekku dan aku udah janji sama Pak Mamat
kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan tadi sore saat pak Mamat lewat
depan rumahku, aku katakan pada pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah
ke pasar malam dan aku akan membeli boneka pak Mamat. Karena ayah masih
belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat maafkan Aisyah yah.
Besok pagi akan Aisyah tunggu di depan rumah dan minta maaf pada pak Mamat
kalau Aisyah tidak bisa pergi ke pasar malam. Kali ini Aisyah yang akan
duluan meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau sudah
melihatku di depan rumah menanti majalah yang kupesan. Dia selalu bilang,
'maaf yah neng, pak Mamat terlambat'. Padahal menurutku pak Mamat nggak
terlambat hanya aku yang terlalu cepat menunggunya. Begitu melihatku sudah
menunggu dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Saat kutanya kenapa sih
pak Mamat selalu minta maaf padahal pak Mamat kan nggak punya salah pada
Aisyah. 'Iya neng, Pak Mamat tidak ingin mengecewakan neng Aisyah kemaren
kan sudah bilang kalau pak Mamat nganterin pesanan neng Aisyah pagi-pagi
sebelum neng pergi kesekolah. Coba kalau pak Mamat datangnya kesiangan pasti
neng kecewa, pak Mamat nggak ingin neng, ngecewakan orang karena kekecewaan
itu akan menimbulkan luka di hati. Dan susah neng untuk menyembuhkannya
kecuali kita minta maaf dengan tulus pada orang yang telah kita kecewakan'.
Aku jadi ingat sama ayah, ayah tidak pernah mengucapkan maaf padaku, atau
mungkin karena ayah menganggapku masih kecil atau ah, aku tidak mau
berprasangka buruk terhadap ayah. Walaupun sebenarnya aku sangat kecewa
dengan ayah tapi aku tidak ingin menyimpan kekecewaan itu didalam hati.
Bahkan hatiku selalu terbuka untuk kata maaf ayah".

Aku menangis membaca tulisan Aisyah, kudekati Aisyah di pembaringan sambil
kupandangi wajahnya yang polos. Aisyah anakku sayang maafkan ayah, ternyata
kau punya hati emas. Aku memang tidak pernah minta maaf pada Aisyah atas
janji-janji yang tidak pernah kupenuhi padanya. Dan aku selalu menganggapnya
dia sudah melupakannya begitu melihatnya dipagi hari wajahnya begitu cerah
dan selalu tersenyum. Dan ternyata dia masih mengingatnya dalam
tulisan-tulisannya. Ah, entah sudah berapa banyak goresan rasa kecewa yang
ada dihatimu andai kau tidak memaafkan ayah. Aisyah, ayah akan menunggumu
sampai terbangun untuk meminta maafmu.

---Untuk anakku tersayang Aisyah---

Renungan:
Terkadang kita malu atau enggan hanya untuk sekedar mengatakan kata "maaf"
dan membiarkannya menjadi goresan-goresan luka yang membekas di hati. Atau
mungkin kita sering beranggapan bahwa mereka akan melupakannya setelah
beberapa hari. Kalau seandainya anda juga pernah melakukan hal yang sama
seperti saya, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada orang yang
pernah anda kecewakan. Jangan malu untuk melakukan hal yang benar sekalipun
itu anda lakukan untuk seorang bocah atau teman, karena mereka juga punya
hati nurani. Dan seandainya mereka masih tersenyum padamu walaupun anda
telah mengecewakan mereka anda harus bersyukur atas karunia itu. Semoga
kita-kita semua memang tidak pernah lupa pada kata yang satu ini, 'MAAF".


zubiayusuf wrote on Jan 9
TFS ya mbak...
yenisfamilyblog wrote on Jan 9
nice artikel Ika,makasih sharenyaaaa..
mulla71 wrote on Mar 16
Terharu. Jazakillah ya Mbak atas ceritanya.
agne5 wrote on Mar 16
TFS Mba Ikaaa *hugs*
ikusnaryati wrote on Mar 17
Sama-sama....
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help