ReviewReviewReviewReviewBatik GatesJun 3, '08 12:10 AM
for everyone
Category:Other
CELAH
WWW.INILAH.COM

14/05/2008 22:23 WIB

BATIK GATES

M. Ichsan Loulembah

LELAKI itu tidak selesai kuliah. Waktu muda tubuhnya kerempeng, dan ringkih. Kini pengaruhnya amat besar bagi dunia. Namanya sering menempati urutan teratas orang terkaya di dunia. Paling sial dia berada di urutan ketiga.

Bill Gates, Chairman Microsoft Corp, datang memberikan ceramah yang diminati banyak segmen di masyarakat. Bukan untuk menjelaskan mengapa perusahaannya terus berupaya 'menelan' icon dunia internet seperti Hotmail
dan Yahoo! yang masih jadi pembicaraan.

Jumat itu (09/05/08), Gates datang untuk sebuah pemaparan tentang masa
depan internet dan manfaatnya bagi sebuah komunitas, pengelolaan negara,
bangsa, bahkan dunia. Namun, bukan itu yang menjadi fokus artikel pendek
ini.

Pakaian yang membalut tubuh pria berkacamata itu yang justru menarik perhatian saya. Bill Gates memakai batik!

Wajah seriusnya nampak padu dengan pilihan batik bercorak padat. Pemakaian
batik itu ternyata inisiatif para pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Sebuah tindakan yang penting, strategis, dan sadar pemasaran.

Peristiwa Gates berbatik dapat dilihat dari beberapa sudut.
Pertama; walaupun pernah juga digunakan para pemimpin APEC beberapa tahun
lalu, Gates tetaplah icon penting. Bahkan jauh melampaui pengaruh para
pemimpin formal tersebut.

Dia diperhatikan, bahkan menjadi teladan segala usia. Sehingga foto salah satu figur penting di sektor teknologi informasi ini segera terpampang di dunia maya. Dan akan mengalami reproduksi berlipat-lipat.

Kedua; karena backbone generasi internet adalah anak muda, tentu sebuah
kampanye yang menarik. Para praktisi pemasaran tentu amat mafhum bahwa
anak muda adalah segmen pasar yang sangat atraktif, dan dinamis.

Bukan itu saja, selain terus bertumbuh, anak muda sering menjadi penentu
kecenderungan. Bahkan bagi pasar dewasa sekalipun.
Gates, menambah deretan pesohor dunia, setelah Nelson Mandela dan batiknya. Walau berkarakter beda, keduanya pesohor dengan pengagum melintasi batas apapun.

Ketiga; seharusnya "momentum Gates" pakai batik tidak lewat begitu saja seperti pemimpin APEC dan Mandela pakai batik, tempo hari. Justru harus dijadikan sebuah momentum untuk gerakan yang lebih besar. Sebuah gerakan pemasaran atau promosi perdagangan internasional.

Pemerintah - dalam hal ini kementerian perdagangan - merumuskan sebuah
proyek pemasaran dengan cara yang tidak biasa. Karena selama ini cara berpromosi kita terlampau biasa; pameran, eksibisi, pertunjukan, dengan tulang punggung pelaksana para staf KBRI plus birokrat Departemen Perdagangan.

Keempat; walaupun memiliki banyak kekayaan budaya yang dapat dijadikan komoditas, batik paling layak dijadikan prioritas. Karena sebagai busana,
batik bisa menjadi produk massal. Juga mewakili keragaman corak berdasarkan etnisitas bangsa kita.

Bayangkan, pemakaian batik sekarang jauh lebih meriah dan massal dibanding
satu dekade yang lalu. Ada lagi bedanya; dulu lebih sering dipakai pada acara formal, sebagian bahkan 'setengah kewajiban'.

Kini, batik secara sukarela menjadi bagian dari mode segala lapisan ekonomi, sosial, dan usia. Bahkan kafe dan diskotik pun tak kuasa menahan laju batik.

Sudah waktunya batik dipakai oleh semua pejabat dan birokrat pada garis depan pergaulan dunia. Mulai dari para diplomat kita diberbagai belahan bumi.

Sampai utusan resmi kenegaraan pada setiap agenda bilateral, multilateral,
perundingan politik, negosiasi dagang, dan konferensi penyelamatan lingkungan.

Bangsa-bangsa lain, jamak melakukannya. Utusan resmi India, Pakistan, bahkan Filipina, apalagi negara-negara Afrika, kerap menggunakan busana nasional di setiap forum internasional yang mereka ikuti.

Selagi menuntaskan kolom ini, mata saya tertumbuk pada dua gambar. Yang
satu memuat foto Bill Gates berbalut batik bercorak pisang Bali. Satunya lagi memuat tampang Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik tersenyum
lebar dengan jas lengkap dalam iklan Visit Indonesia Year 2008.


Penulis adalah Anggota Dewan Perwakilan Daerah


ReviewReviewReviewReviewBUNTUT SINGKONGFeb 17, '08 5:49 AM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah, semoga bermanfaat.........

Tersebutlah dalam sebuah kisah nyata.

Diujung gang sebuah pasar, mangkal seorang penjual singkong goreng (gorengan) yang setiap hari berjualan dengan penuh suka cita demi menghidupi anak dan istri tercinta.

Pada suatu hari, datang seorang anak kecil entah dari mana asalnya. Si anak berdiri di sisi gerobak kesayangan Pak Singkong (sebut saja begitu) sambil memandangi gorengan panas yang baru diangkat dari penggorengan mendidih. Sambil menggigiti jari telunjuknya. Selintas Pak Singkong memperhatikan dan bertanya "kamu mau... ?" dan tanpa bersuara si Anak Singkong (sebut juga begitu) mengangguk, tersungging sedikit senyum gembira penuh harap.

Terlintas begitu saja, Pak Singkong langsung bereaksi. Ia mengambil ujung paling kecil dari potongan singkong yang tidak terjual dan langsung menceburkannya ke minyak mendidih. Lumayan, daripada terbuang sia-sia, karena ga ada yang mau beli gorengan buntut singkong. Dengan penuh kegembiraan si Anak Singkong melahap buntut singkong goreng gratis dari Pak Singkong.

Demikian, hal berulang setiap hari. Sampai pada hari ke empat, pak singkong tidak lagi kedatangan tamu kehormatannya itu. Sampai akhirnya...

Dari sebuah mobil yang cukup mewah (Belum Jaguar setidaknya), turun seorang laki-laki muda gagah, parlente kata orang betawi (sebut aja si Tampan). Dia menghampiri pak singkong dengan senyum gagah menawan.

"Gorengan Om", begitu teguran khas Pak Singkong ke stiap pelanggan yang datang. "Ya Pak, tapi saya mo beli buntut singkong" sambil tetap mempertahankan senyum gagah (hehehe... senyum gagah kaya apa sih ?).

Sambil senyum dan tak kalah gagah (ukuran Pak Singkong), Pak Singkong menjawab sekenanya "Maaf Om... saya kaga jual buntut singkong" dan si Tampan ga mau keabisan akal "ah... massaaa...." katanya sambil pindah ke posisi kanan gerobak Pak Singkong sambil menggogot jari telunjuknya.

"Masya Allah.... Subhanallah...." sambil melotot terperangan penuh haru "jadi ini kamu...." demikian kata Pak Singkong sedikit terbata. "Ya... ini saya, 20 tahun cukup untuk membuat Bapak lupa sama saya" jawab di Tampan.

Setelah 4 hari minta dan makan buntut singkong, si Anak Singkong merasa cukup tenaga untuk melanjutkan hidupnya... ia bekerja keras untuk pendidikan dan karirnya hingga akhirnya ia berhasil meraih sukse yang ga pernah dibayangin sebelumnya.

Singkatnya, sebagai ucapan terima kasih atas segala kebaikan Pak Singkong yang telah memberinya hidup selama 4 hari dengan buntut singkongnya si Tampan memberangkatkan haji Pak Singkong, memberinya modal dan mengangkat derajat kehidupannya.

Tausyah...
Allah akan membalas segala kebaikan seseorang yang dilakukannya dengan tulus. Demikian juga Allah akan membalas sekecil apapun perbuatan jahat dengan azabnya yang pedih.
Allah memberi rejeki dari tempat yang tidak disangka-sangka kepada setiap orang yang dikehendaki Nya.

Dikutip dari kisah nyata oleh Ustadz Yusuf Mansur pada Pelatihan Wisatahati "The Power Of Giving ; Membangun Integritas Mencapai Target Kinerja" di PLN UPJ Bekasi.


Category:Other
Ini juga dari milis sebelah......

10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur
Oleh : Bobby Herwibowo

Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi
kebanyakan manusia tidak bersyukur. QS. Al Baqarah : 243

Menjelang Ramadhan tahun ini ada seorang sahabat menuturkan kisahnya.
Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya
berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan.
Usai mereka membayar semua barang belanjaan. Tangan-tangan mereka
sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko
swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat
itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada
istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar
uang kertas berjumlah 1000 rupiah.
Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala ia tahu jumlahnya dan
ternyata itu tidak mencukup kebutuhannya, ia kemudian menguncupkan
jari-jarinya dan ia arahkan kearah mulutnya, kemudian ia memegang
kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup
itu ke arah mulutnya. Seolah ia berkata dengan bahasa isyarat, "Aku
dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan."
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas
isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku
tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski ia tidak menambahkan sedekahnya malah istri dan
putrinya Budiman menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli
cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center
guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang adalah tanggal dimana
ia menerima gajian dari perusahaannya, karenanya Budiman ingin
mengecek saldo rekeningnya.
Ia sudah berada di depan ATM. Ia masukkan kartu ke dalam mesin
tersebut. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian
muncullah beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan
senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam
rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM.
Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya.
Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai
10 ribu yang ia tarik dari dompet. Kemudian uang itu ia lipat menjadi
kecil dan ia berniat untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi
meminta tambahan sedekah.
Budiman memberikan uang itu. Lalu saat sang wanita melihat nilai uang
yang ia terima betapa girangnya dia. Ia berucap syukur kepada Allah
dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh
kesungguhan:
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan!
Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga.
Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan
keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.
Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga
tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di
surga...!"
Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu
mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap
terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi
sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali
lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik,
Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya
wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya
bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka
berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung
tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan
putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini
mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?"
Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan:
"Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu
rupiah!"
Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman menyatakan
bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis, namun
Budiman melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya,
ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak
itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga
kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah
sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM
saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin
ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat
saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa
bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu
bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau
memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah,
apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa,
ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun
sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan
beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas
setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.
Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang suka lalai atas segala
nikmat-Mu!


ReviewReviewReviewReview"Ma'afkan ayah anakku..." Jan 9, '08 9:08 PM
for everyone
Category:Other
Dari email tetangga,......semoga bermanfaat.

"Ma'afkan ayah anakku..."
Oleh: Tidak Diketahui


Sebuah kisah yang harus kita ketahui bersama untuk dapat diperhatikan. ..

Ini ada bahan untuk bahan renungan bagi kita semua yang barangkali ada yang
kelupaan pada kata yang satu ini, yaitu : MA'AF.

Jam sudah menunjukkan angka sebelas ketika aku duduk merebahkan diri di
ruang tengah. Tentu saja istri dan anakku Aisyah sudah tertidur lelap. Tapi
kenapa pintu kamar Aisyah masih terbuka? Aku tertegun saat berdiri di depan
pintu kamar Aisyah. Aisyah tertidur di meja belajarnya ditangan kanannya
masih memegang pinsil dan sepertinya ia menulis sesuatu di buku tulisnya dan
ada segelas kopi.

"Tumben anak ini minum kopi," pikirku.

Kuangkat dia ketempat tidur. Kubereskan meja belajarnya yang berantakan,
namun sebelum aku menutup buku tulisnya aku ingin melihat apa yang ditulis
Aisyah. Aku tertegun sejenak saat membaca tulisan-tulisannya, ternyata
semuanya cerita tentang diriku. Sampai akhirnya aku membaca 3 lembaran
terakhir yang sangat menyentuh hatiku.

Di lembaran pertama dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi menemaniku ke
toko buku, mungkin ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti
dengan kesibukanmu ayah."

Aku jadi ingat beberapa minggu yang lalu Aisyah mengajakku ke toko buku, aku
ingat sekali gaya bicaranya yang polos.

"Ayah nanti sore ada kegiatan nggak sih," sapa Aisyah saat aku akan pergi
kerja.

"Ada apa sayang," jawabku.

"Ayah mau nggak menemani Aisyah ke toko buku?"

"Kalau ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan menemani kamu yach".

"Terima kasih, ayah," ucap Aisyah dengan wajah yang sangat gembira sambil
mencium pipiku.

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.

Di lembaran kedua dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi lagi menemaniku ke
toko kaset, padahal aku ingin sekali mendengar lagunya Sulis dan memutarnya
di kamarku saat aku sedang sendiri agar aku tidak merasa sunyi. Sebenarnya
aku mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali ditemani ayah. Tapi lagi-lagi ayah
sibuk".

Dan aku ingat lagi kalau Aisyah memang pernah mengajakku menemaninya membeli
kaset.

Kalau dia ingin mengajakku dia selalu bicara seperti ini, "Ayah nanti sore
sibuk nggak atau Ayah nanti sore ada kegiatan?"

Bahasa yang sopan sekali menurutku sehingga aku tidak bisa untuk mengatakan
tidak walaupun terkadang aku tidak bisa memenuhi keinginannya.

Di lembaran terakhir dia menulis : "Hari ini dan untuk kesekian kalinya ayah
tidak bisa menemaniku. Tadi aku mengajak ayah ke pasar malam padahal ini kan
hari terakhir ada pasar malam di komplekku dan aku udah janji sama Pak Mamat
kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan tadi sore saat pak Mamat lewat
depan rumahku, aku katakan pada pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah
ke pasar malam dan aku akan membeli boneka pak Mamat. Karena ayah masih
belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat maafkan Aisyah yah.
Besok pagi akan Aisyah tunggu di depan rumah dan minta maaf pada pak Mamat
kalau Aisyah tidak bisa pergi ke pasar malam. Kali ini Aisyah yang akan
duluan meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau sudah
melihatku di depan rumah menanti majalah yang kupesan. Dia selalu bilang,
'maaf yah neng, pak Mamat terlambat'. Padahal menurutku pak Mamat nggak
terlambat hanya aku yang terlalu cepat menunggunya. Begitu melihatku sudah
menunggu dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Saat kutanya kenapa sih
pak Mamat selalu minta maaf padahal pak Mamat kan nggak punya salah pada
Aisyah. 'Iya neng, Pak Mamat tidak ingin mengecewakan neng Aisyah kemaren
kan sudah bilang kalau pak Mamat nganterin pesanan neng Aisyah pagi-pagi
sebelum neng pergi kesekolah. Coba kalau pak Mamat datangnya kesiangan pasti
neng kecewa, pak Mamat nggak ingin neng, ngecewakan orang karena kekecewaan
itu akan menimbulkan luka di hati. Dan susah neng untuk menyembuhkannya
kecuali kita minta maaf dengan tulus pada orang yang telah kita kecewakan'.
Aku jadi ingat sama ayah, ayah tidak pernah mengucapkan maaf padaku, atau
mungkin karena ayah menganggapku masih kecil atau ah, aku tidak mau
berprasangka buruk terhadap ayah. Walaupun sebenarnya aku sangat kecewa
dengan ayah tapi aku tidak ingin menyimpan kekecewaan itu didalam hati.
Bahkan hatiku selalu terbuka untuk kata maaf ayah".

Aku menangis membaca tulisan Aisyah, kudekati Aisyah di pembaringan sambil
kupandangi wajahnya yang polos. Aisyah anakku sayang maafkan ayah, ternyata
kau punya hati emas. Aku memang tidak pernah minta maaf pada Aisyah atas
janji-janji yang tidak pernah kupenuhi padanya. Dan aku selalu menganggapnya
dia sudah melupakannya begitu melihatnya dipagi hari wajahnya begitu cerah
dan selalu tersenyum. Dan ternyata dia masih mengingatnya dalam
tulisan-tulisannya. Ah, entah sudah berapa banyak goresan rasa kecewa yang
ada dihatimu andai kau tidak memaafkan ayah. Aisyah, ayah akan menunggumu
sampai terbangun untuk meminta maafmu.

---Untuk anakku tersayang Aisyah---

Renungan:
Terkadang kita malu atau enggan hanya untuk sekedar mengatakan kata "maaf"
dan membiarkannya menjadi goresan-goresan luka yang membekas di hati. Atau
mungkin kita sering beranggapan bahwa mereka akan melupakannya setelah
beberapa hari. Kalau seandainya anda juga pernah melakukan hal yang sama
seperti saya, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada orang yang
pernah anda kecewakan. Jangan malu untuk melakukan hal yang benar sekalipun
itu anda lakukan untuk seorang bocah atau teman, karena mereka juga punya
hati nurani. Dan seandainya mereka masih tersenyum padamu walaupun anda
telah mengecewakan mereka anda harus bersyukur atas karunia itu. Semoga
kita-kita semua memang tidak pernah lupa pada kata yang satu ini, 'MAAF".


ReviewReviewReviewReviewHarapan dari negeri SakuraJan 9, '08 8:59 PM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah.....

Subject: Oleh-oleh dari Jepang (judul asli)
Penulis:Yuli Setyo Indartono (Mahasiswa S3 di Graduate School)

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu
kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini
berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi
keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang
sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik
untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.


Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan
beberapa kawan dekat kami di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah m eli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-
jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di
kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi
para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk,
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah
tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf
teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa m
eli hat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi
dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani
masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi
pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-
dalam dengan pola serius utuh dis eli ngi dengan senyuman. Saya
hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari
system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut"
tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard
upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki
kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi
penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas
Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal
bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak
hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya
atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW,
Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu
mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat,
sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang
asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya
mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri
saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah
mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka
semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya
membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang
lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-
orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai
di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya
diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan
bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang
sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah
seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat
tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak
tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut
akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana .

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah
yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami
sempat terkejut m eli hat tagihan listrik bulanan yang melonjak
hingga 10 kali lipat.

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada
kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan
yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon
perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan
tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf)
keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah
selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk
meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas
petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah
saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi
sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas
tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat
yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kek eli ruan dalam
bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di
Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan
anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda
melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.

Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun
kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua
memiliki niat bekerja - versi Jepang.

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami memb eli sebungkus buah-buahan dengan bandrol
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya
sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan)
pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali
memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja
kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa),

karena kami sudah m eli hatnya dari awal. Beberapa kawan kami
mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup
mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli
oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah
prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup
untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan
pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang
dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero

Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian
terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pemb eli
terhadap transaksi jual-b eli .

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan
karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli
batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas
supermarket m eli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut
dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah
untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah
kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket
menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia
untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa
jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga
mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat
besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah
toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi
komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar
serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang
anda b eli .

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di
Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih
gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit.
Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis
di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau
bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau.
Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek
terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang -
mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak
atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya m eli
hat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di
negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda
lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri
anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini
lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision
maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus
berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda
berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya
perlu m eli hat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya,
sistem yang akan bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini
hampir separuh populasi Republik tercinta.

Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang
sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya
menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan
melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar
dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan
berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya
dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan
dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan
menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-
jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda
akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang
meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun
dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang
mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata.
Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk
digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan
karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai
hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang
sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan
anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan
kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan
saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi
pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.


Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki
kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang
tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen
(kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di
Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan
lalu lintas kereta di Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di
Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal
ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik
diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama
energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada
rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan"
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang
di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia,
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota
ini.

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih
mampu memajukan bangsa dan negaranya.

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan
pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan
di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai
orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program
asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu
membayar 30% dari biaya berobat.

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan
mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang
dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa
ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi
yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi
menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan
membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan
memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu
asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus
keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan
keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama
sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-
benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar
dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri
melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori
formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak
menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.
Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari
Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit
tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah
dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan
kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.



ReviewReviewReviewReviewKepuasan dirasa SyukurJan 9, '08 8:18 PM
for everyone
Category:Other
dari milis tetangga

Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke,
jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange
Building.

Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak
Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai
sebrang-sebrang.

Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil
soalnya sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa
milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir,
seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami
pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela
mobil kami, kami agak kaget.
"Semir om?" tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir
sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan
sok sibuk...Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang
terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya
nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan
pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur
sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur
segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet,ya jadi pak ogah.
Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada
yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya
melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).

Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur
kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak,
kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
Dia menyerahkan sepatunya pada ku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak
menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan
jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil
satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya.
Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami
juga merasakan penolakan itu.

Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba
kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi
kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi...

Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat
pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan
penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di
beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk
lesu...Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang
sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir
biasanya 2 ribu rupiah

Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".

BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
It-just-does-not-compute-with-my-logic!
Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia
kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa
cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa
ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa
kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari
dia.

Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa
dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi,
ke aku, yang sudah berkelebihan.

Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
Siang ini aku seperti diingatkan.
Bahwa kejujuran itu langka.
Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.


ReviewReviewReviewReviewReviewAku Bermimpi Suatu Hari Aku Pergi Ke SurgaOct 22, '07 12:03 AM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah, baik untuk renungan kita semua. Ternyata masih sedikit manusia mengucapkan terima kasih....

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku
serta menunjukkan keadaan di surga.

Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,

"Ini adalah Seksi Penerimaan.
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian,....
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang.
lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua

Malaikat-ku berkata,
"Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.
Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke
manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.
Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu
banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor
panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat
kecil.

Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk
disana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan.
Dia tampak malu.

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "
Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".

Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata, 'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN,
Terima kasih, Tuhan' ".

"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan
di lemari es, Pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan
tempat untuk tidur, Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh,
maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu,
engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu

Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih
banyak kesehatan daripada kesakitan ...
engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang
di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam
penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat ....
Maka, engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".

"Jika,........
engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada
ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan,
atau kematian ...
M a k a,....
engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di dunia.

"Jika,....
orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam
ikatan pernikahan ...
Maka,.....
engkau termasuk orang yang sangat jarang

"Jika,...
engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda
yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati
daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah
Allah anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa dirahmatiNya kita semua

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu
menyatakan bahwa,'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu' ".
(QS:Ibrahim (14) :7 )

Ditujukan pada :
Departemen Pernyataan Terima Kasih:
”Terima kasih, Allah!
Terima kasih, Allah, atas anugerahmu berupa kemampuan
untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak
teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi".


ReviewReviewReviewReviewMatematika Gaji dan Logika SedekahSep 28, '07 7:41 PM
for everyone
Category:Other
Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri.
Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai
seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana
mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa' keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai
bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?".

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur". Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu
saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
-------------------
Dengan menyebut nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang
- orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran. ( Al Qur'an, Surah Al 'Ashr )
------
"Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu; pergunakan masa
luangmu sebelum datang masa sibukmu; pergunakan waktu sehatmu sebelum
datang waktu sakitmu; pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu
miskinmu; pergunakan hidupmu sebelum datang matimu." ( Rosulullah
Muhammad SAW )




ReviewReviewReviewReviewMaafkan Aku SahabatSep 28, '07 7:18 PM
for everyone
Category:Other
Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya.
Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata,
dia menulis di atas pasir :
HARI INI,
SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan
oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di
sebuah batu:
HARI INI, SAHABAT
TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di
batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus
memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding
diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan 'hanya'
karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut
kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa
untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini
memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya
lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang
paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita
itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka
sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang
dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk 'menyerahkan' sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita-
dengan membaca doa, "Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah
diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang
pernah menyakiti hati kami."Bukankah Rasulullah pernah berkata, "Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu".

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau
tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah
menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku
takutkan kalian tidak mau memaafkan. Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-
dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga
menyesakkan dada.

Saudara-saudaraku, jika kalian tidaksanggup mendoakan aku agar aku 'ada'
di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segalakesalahan-kesalahanku. Tolong jangan
kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa
aku telah menyakiti hatimu.


ReviewReviewReviewReviewBatu dan Hati NuraniSep 28, '07 6:57 PM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah ..........

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli
mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang
menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya
kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar
sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya
anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah
mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak
melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu
mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu
menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara
sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang
pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan
tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya
anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

"Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!"
Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu
paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai
tergores." Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya
benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air
mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan
batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti…."

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke
suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Itu disana ada kakakku. Dia
tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia
terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.."

Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada
wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi
roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku."

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya
tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat
itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk
mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu
Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa
mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas
perbuatanmu." Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih
nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang
mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya.
Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja
di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia
memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan
itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu
tetap nyata terlihat

"Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan
melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."

***

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu
untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai
macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat,
sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat
sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang,
kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap
ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu
hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau
dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar
bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.




ReviewReviewReviewReviewReview(KISAH) DIA MANUSIA BIASASep 21, '07 11:30 PM
for everyone
Category:Other
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai
suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban
karena Allah hingga
jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada
satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman
yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh
ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah.
Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia
seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah
lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal
yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.
Trauma dikhianati lelaki
membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu
akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua
baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama
proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.
Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki
itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk
sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya ). Saya tidak bisa
membantunya
mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk
meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk
menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita
tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru
bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,
sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin
ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada
banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita
banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya
paham kondisinya saat ini.

"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."

"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan
lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu
hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal,
tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah
sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta
yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah
pertanyaan yang selama ini saya pendam.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka
laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas
didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu
menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari
tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon
suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya
malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas
dideretan paling atas.

"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil
menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya
memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan
calon kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah
surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama .. menginginkan anda .. untuk menjadi istri saya.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya
punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya
pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya
penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya
memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti
akan ngontrak
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan
anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah
manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya
menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya
menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar
menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat
bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang
pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.
Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya
memilih anda. Saya sudah sholat
istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya
tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.
Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat
mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada
saya. Saya
kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan
jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru
kali
ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan
realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya
menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia."

"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang
aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan
apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu
saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."

"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering
terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu
cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. "Udah tidur. Besok
kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Kita kembali rebahan.
Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.

"Gik."

"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya
ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang
sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala
kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan
jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada
seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu
menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah
'proses usaha'. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri yang selama
ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah
dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya
dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara
total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya
Allah yang mampu
menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan
segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA
mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang
akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu,
bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.
Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau
diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri
(belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia
biasa, yang berusaha mengabungkannya agar menjadi cinta yang luar
biasa. Amin .


ReviewReviewReviewReview10 Resep Jadi Orang Tua EfektifSep 21, '07 10:51 PM
for everyone
Category:Other
Rafiqa Qurrata A - detikcom

Jakarta - Menjadi orangtua yang ideal memang tak ada rumusnya. Namun untuk menjadi orangtua efektif, Anda bisa mempertimbangkan 10 resep berikut ini.

"Pertama, kenali anak Anda. apakah dia pemalu atau periang. Kemudian perlakukan anak Anda sesuai dengan karakternya, jangan paksa anak untuk menjadi karakter lainnya," kata psikolog Frieda Mangunsong dalam jumpa pers '10 Cara Menjadi Orangtua Efektif' di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (22/8/2007).

Kedua, jangan cuek saat anak berlaku manis dan baik. Beri pujian terhadap semua hal yang dia lakukan.
"Hal-hal kecil saja. Jika dia melakukannya dengan baik, jangan tunda lagi, langsung berikan pujian," kata Frieda.

Ketiga, anak harus dilibatkan dalam kegiatan dan keputusan keluarga.
Tentu saja orangtua harus menyesuaikan porsinya dengan usia anak. Misalnya, membahas soal liburan bersama dan memberi anak tugas rumah tangga yang bersifat ringan. "Misalnya melipat serbet," imbuh Frieda.

Keempat, manfaatkan kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak.
Bahkan saat Anda berada di tengah kemacetan, manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya untuk menelepon anak. Jika ada waktu menonton televisi bersama, gunakan untuk menanamkan nilai pada anak.

"Kelima, sediakan waktu khusus untuk berdua saja dengan anak. Misalnya dengan mengantar atau menjemput dari sekolah," ujarnya.

Keenam, disiplin harus ditegakkan.
Anda juga harus memastikan disiplin versi Anda sama dengan disiplin versi pengasuh anak atau pasangan Anda. Namun, jangan menjadikan disiplin sebagai teknik mendidik anak yang utama.

"Akibatnya orangtua akan mengutamakan hukuman dan kekerasan dalam mendidik anak," kata Frieda.

Ketujuh, jadilah contoh yang baik bagi anak.
Sebab anak adalah peniru ulung dan menjadikan orangtua sebagai polanya. "Jika ingin anak ceria, ya kita harus ceria. Jika tidak ingin anak autis, ya cerewetlah juga sesekali," seloroh Frieda.

Kedelapan, ungkapkan kasih sayang Anda. Jangan anggap enteng dengan menganggap anak sudah pasti tahu dengan sendirinya. Kata-kata, belaian, pelukan, dan ciuman punya arti penting bagi mereka.

"Anda juga bisa memberikan surat pendek sekedar 'mama sayang kamu' atau memberi gambar-gambar bunga atau hati dengan pesan 'bunga untuk anak mama'," kata Frieda.

Kesembilan, perhatikan komunikasi dengan anak.
Jangan lupa, kontak mata punya pengaruh penting untuk urusan ini.
"Kalau Anda teriakkan aturan atau perintah dari ruangan lain, itu tidak akan efektif. Jangan sampai anda memberitahukan sesuatu dengan berteriak atau mengomel," kata Frieda.

Kesepuluh, jangan sampai Anda menyelesaikan masalah saat Anda marah.
Sebab jika kata-kata menyakitkan Anda lontarkan, sangat mungkin kata-kata itu membekas di benak anak.
"Ingat, jadilah contoh bagi anak," pungkasnya.


ReviewReviewReviewReviewBerapa lama Kita dikubur? Sep 21, '07 10:08 PM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah --------

Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur . Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas . "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal . Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak . Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku...".


ReviewReviewReviewReviewJangan Abaikan Sinyal TubuhSep 21, '07 9:53 PM
for everyone
Category:Other
Tubuh sering memberikan sinyal-sinyal ke kita berupa kram, kedutan, cengukan dan sinyal2 lainnya, tetapi sering kita mengabaikannya. Padahal dengan memperhatikan sinyal2 tersebut diharapkan kita lebih care dengan tubuh kita sehingga tubuh kita menjadi lebih sehat dan segar. Berikut informasi dari milis sebelah, semoga bisa bermanfaat…..

Jangan Abaikan Sinyal Tubuh

> - Jawaban - Anda pasti pernah mengalami kedutan,
> cegukan, atau telinga berdenging. Sayangnya,
> sebagian besar dari anda seringkali mengabaikan
> tanda-tanda tubuh tersebut. Padahal menurut Dr.
> Karen Wolfe, penulis buku "Create The Body Your Soul
> Desires", mengatakan bahwa tubuh yang mengalami
> kedutan atau cegukan bisa menjadi pertanda bahwa
> tubuh anda sedang mengalami gangguan ringan. Namun
> meskipun gangguan tersebut tergolong ringan, tidak
> berarti anda harus mengabaikannya. Sebab, dengan
> memahami sinyal yang diberikan oleh tubuh diharapkan
> anda dapat lebih peduli pada tubuh sehingga tubuh
> menjadi lebih sehat.

> Kedutan Pada Kelopak Mata
> Gerakan tak sadar yang diberikan oleh bagian tubuh
> anda ini menandakan bahwa tubuh anda kurang
> beristirahat dan tidur. Bahkan para ahli kesehatan
> sepakat, 99% kekejangan pada mata disebabkan karena
> tubuh anda didera stress dan lelah yang amat sangat.
> Tidak ada cara lain yang bisa anda lakukan untuk
> menghentikan kedutan pada mata ini selain membiarkan
> tubuh dan mata anda untuk beristirahat. Mengompres
> mata anda dengan air hangat untuk beberapa saat juga
> sangat membantu.

> Sering Menguap
> Menguap tidak selalu berarti mengantuk. Menguap,
> juga merupakan sinyal dari alam bawah sadar anda
> bahwa tubuh anda kurang bergerak. Misalya, anda
> terlalu serius bekerja sehingga menghabiskan lebih
> dari 5 jam duduk di depan komputer. Terlalu banyak
> menguap bisa juga berarti bahwa oksigen di dalam
> otak anda sedang menurun jumlahnya. Hati-hati,
> kondisi ini bisa menurunkan tingkat kewaspadaan
> serta konsentrasi anda terhadap pekerjaan dan
> lingkungan di sekitar anda.

> Cegukan
> Anda cegukan padahal anda tidak sedang makan apapun.
> Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tubuh anda sedang
> mengalami stress. Hal ini karena cegukan melepaskan
> hormon stress ke dalam aliran darah, kemudian
> merangsang serat syaraf secara berlebihan.
> Akibatnya, terjadi kontraksi otot tak sadar yang
> terletak di dekat pita suara hingga menimbulkan
> bunyi. Cara termudah untuk meredakan cegukan anda
> adalah dengan cara menelan sedikit gula pasir.
> Butiran gula pasir akan menstimulir ujung saraf di
> balik kerongkongan sehingga menghambat impuls syaraf
> lainnya, sehingga cegukan pun reda.

> Kaki Kram
> Apakah anda sering mengalami kaki kram secara intens
> setiap malam? Kram kaki merupakan sinyal tubuh yang
> mengisyaratkan bahwa tubuh anda sedang mengalami
> dehidrasi, kekurangan kalsium dan magnesium. Untuk
> mengatasinya, minumlah air putih lebih banyak dari
> biasanya. Susu kalsium juga sangat disarankan.

ReviewReviewReviewReviewPusingnya Jadi Ibu Jaman SekarangSep 21, '07 9:35 PM
for everyone
Category:Other
Dari milis sebelah……

Pusingnya Jadi Ibu Jaman Sekarang

Kalo denger omongannya ibu-ibu kita jaman dulu (yang sekarang berarti uda jadi neneknya anak2 kita...), kayanya punya anak gampang banget deh ngurusnya. Mertuaku aja pernah bilang , " Mama sih dulu ngurus anak2 gampang, tinggal kasih makan , lempar... kasih makan , lempar....
"Maksudnya kali , anaknya tinggal dikasih makan aja, abis itu ngga pusing mau ngapain terserah anaknya. Yah, berarti berbahagialah wahai ibu2 jadul.....

Sekarang , mari kita kembali ke laptop..., eh, maksudnya kembali ke topik kita. Dulu waktu belum punya anak , karena ngerasa belum mampu, masih kuliah, belum kerja, belum punya rumah sendiri, ada aja orang yang ngomentarin :

" Buruan loh punya anak, kapan lagi ... "

Trus kalo dijawab :

" Belom Tante, masih kuliah, mau belajar kerja dulu "

Si Tante jawab lagi :

" Ya ampun, udah kawin masih kuliah juga ya, ngapain ...."

Buset deh,.... Mau marah ga sih, emang ada ya pasalnya orang abis kawin ngga usah nerusin kuliah, ngga mikir kali dia bayar uang masuknya itu berapa jut-jut....

Setelah kerja, ngga KB lagi, eh , ternyata masih ngga hamil juga, ada lagi yang suka komentar :

" Lu gimana sih, masa lu kalah sama si Anu ....dia aja udah anak kedua tuh ...bikin dong, lucu kan punya anak .."

Walah, emangnya Tuhan kali ya, bisa nentuin sendiri, abis ngulek langsung jadi...siapa sih yang ngga pingin ....Lalu , setelah akhirnya punya anak , tetep ada aja komentator :

" Kurang lu , anak cuma satu, kasian ...."

Dijawabin :

" Satu aja repot, apa2 mahal "

Dijawab balik :

" Ngga usah dipikirin, tukang beca aja anaknya banyak tuh, idup aja ..."

Tukang beca nih ye... mau apa punya anak kualitas tukang beca ....olala...

Susah kan .....bener deh, kalo dipikir2 lagi, sebenarnya biarpun jaman udah maju, ibu2 sekarang belanja tinggal ke supermarket, ada babysitter, ada mesin cuci, rice cooker, internet, dll, tapi perjuangan melawan musuhnya justru lebih berat loh.

===============
Dibahas yo....dari awal ya :

Hamil

Begitu tau hamil, mesti ke dokter kandungan, searching dulu dokter mana yang top punya. Trus, musti ke lab, takut ada tokso . Diresepin vitamin macem2 ,penguat kandungan, minum susu khusus ibu hamil, musti USG (kalo bisa sih yg 5 dimensi, biar bisa keliatan pori2 bayinya), jangan lupa ikut senam hamil, ikut seminar, parenting class.

Oya, belanja baju hamil juga penting, perut buncit teteup harus chic dong ...trus, beli krem perut, supaya jangan ada strecthmark nantinya. Beli lagu2 om Mozart, puterin supaya anaknya jenius juga. Soal makanan juga penting, musti banyak makan ikan, supaya anaknya pinter kaya orang Jepun. Tapi pusing juga milih ikannya, soalnya isunya ikan yang dijual pada berformalin, trus katanya jangan makan seafood terutama kerang, soalnya banyak menyerap timbal yg ada di Teluk Jakarta, anaknya bisa autis. Juga paling ngeri kalo lagi di jalan raya yang banyak bisnya ngeluarin asap2 hitam, kan katanya bisa jadi salah 1 penyebab anak autis juga.

And then, jangan makan sate dan lalapan, takut kena tokso juga. Dan terpaksa cuti ngopi 9 bulan, katanya menyerap sari makanan, anaknya bisa kur-giz. Trus, olahraga jangan lupa, from mall to mall...he..he. .he..

Penyakit

Setelah anaknya lahir (secara Caesar, ya gimana ya.. mau normal kata dokternya anaknya kelilit usus) cepet2 cari babysitter yang jago megang bayi. Rajin2 imunisasi ke dokter, soalnya hari gini banyak penyakit yg aneh2. Trus siap2 aja dompet kosong soalnya muahal2 vaksinnya. Trus langganan BPP (batukpilekpanas), musti fisioterapi lah, cek alergi lah ...Kalo ditanya, gara2 apa, jawabannya pasti karena virus.

Sekolah & Les

Anaknya uda bisa duduk, mulai hunting sekolah, abis bayi2 yg lain juga udah sekolah ...bayi gaul gitu loh... Jangan sembarangan juga pilih sekolah, minimal harus yg 3 bahasa, biar nyerocosnya lancar. Liat juga fasilitasnya, mesti ada kolam renang, lap. bola, komputer, salon ....buat mama2 nunggu anak jadi anteng, becanda...becanda. ..

Sistemnya juga macam2, pilih deh mana yg paling sreg, Montessori, IB,Cambrigde, sekolah alam, dll. Soal uang masuk + u. sekolah? No problemo, demi anak …( demi gengsi mama juga sih....) Belom lagi lesnya, pilihan banyak, ada Kumon, Sempoa, Inggris, Mandarin, Balet ,Renang, Tenis , Modelling, Drama, Komputer, Gokart juga ada, ayo dipilih... dipilih...dipilih. ...

Masak

Sementara itu tugas masak babysitternya ditake over, karena ternyata doyan banget MSG, ngga pernah dibeliin, bela2in beli sendiri, jadi mulai saat itu mama jadi koki pribadi . Tapi mau belanja juga kudu ati2, beli beras jangan2 pake pemutih, beli terasi katanya pake pewarna kain, beli sayur musti cuci di air mengalir kalo ngga bisa kemakan pestisida, beli ikan & tahu, ada pengawetnya, beli tempe/ tepung maizena / jagung takut juga, katanya dari tanaman transgenik, beli buah kalo yang ngga ada bijinya juga katanya transgenik. Beli biskuit kudu baca label, takut mengandung lemak trans, beli minuman botol juga ngeri takut gulanya gula buatan, pake pewarna ngga jelas dan pengawet extra banyak. Pusiiiiiing. ....
Susu kaleng juga akhirnya di-PHK atas sabda dokter, katanya campuran dalam susu kaleng bisa memicu alergi. Padahal mahal loh belinya, banyak campurannya yang bisa bikin pinter lagi, katanya...katanya. ...
Nah sekarang jadi balik ke jadul, langganan susu sapi segar, fresh from the moo moo.

Masih soal makanan, setelah bisa makan padat dan harus bawa bekal ke sekolah, nambah lagi pusingnya mikirin menu sehat apa yang harus dibawa tiap hari. Kalo anak2 lainnya sih di sekolah ada yang menunya berkisar antara ayam goreng - kentang goreng - nugget - sosis. Keliatannya sih menu orang kota , modern, praktis, tapi kan ... ayamnya aja pahanya segede ulekan , maklum ayam tiap hari dicekokin hormon,ngeri deh ...trus kalo nugget & sosis, rumornya juga kan ngga jelas bahan baku sebenarnya dari apa, beneran daging atau.......? ?? Takuuuuut... .

Susahnya pula, udah dikonsepin menu sehat, dasar bocah kalo liat pembantu jajan, eh ikutan nimbrung nyomot krupuk pelangi (abis warnanya sama tuh kaya warna daster), ikut nyicip baso tikus, tempe goreng dari warteg yg digoreng pake minyak jelantah edisi ke 10 (maksudnya udah bekas nggoreng 10 kali ).

Babysitter & Pembantu

Masalah babysitter & pembantu juga ngga ada abisnya, udah carinya susah, di yayasan stoknya banyak tapi pas ditanya2 ogah2an kaya ngga niat kerja. Ada yg baru sehari kerja uda nangis2 minta pulang inget kampung, ada juga yg langsung menebar pesona kiri kanan, ada yg hamil ngga ketauan, ada yg sempet ngamar di motel deket rumah sama satpam, ada yg suka nyuri, yg kabur manjat pagar gara2 kepincut karyawan tetangga sebrang trus diajak kawin lari pdhl baru kenal seminggu, juga ada yg suka banding2in fasilitas&gaji .
Masih soal babysitter & pembantu, ngeri banget kalo ngebayangin pas mereka ngelakuin hal yang aneh2 itu jangan2 ada anak kita ...ih amit2. Makanya aku rela deh, ngga jadi wanita karier asal bisa memantau anak. Tambah mantap lagi jadi stay at home mom setelah mendengar obrolan (nguping sih tepatnya) para pembantu yg lagi nungguin anak sekolah, ayo tebak, apakah obrolan mereka??.... Serem ,serem.... ternyata kalo ngga ada majikan, mereka suka nonton pilem xxx........

Tontonan, Games, dan Bacaan

Pernah bayangin ngga kira2 bakal kaya gimana lagi ya perkembangan teknologi 5 atau 10 tahun ke depan. Soalnya yang sekarang aja uda yang bisa bikin ortu sport jantung. Gara2 banyak tontonan ngaco di TV , bikin anak juga ikut ngaco. Bayangin deh, film yg lagi diputer sih film anak2, masih pagi pula, tapi iklannya itu loh... masa iklanin sinetron pas lagi adegan mau diperkosa, atau lagi tampar2an. Eh suka juga iklanin acara mistik di sela2 film kartun, alhasil malamnya si anak ngga bisa tidur gara2 mimpi buruk. Nyebelin kan ... Apa musti langganan Astro aja nih ... biar nontonnya Play House Disney Channel aja, tapi kalo neneknya lagi datang trus maksa buka channel sinetron ya susah juga ya.

Trus juga, gara2 gampang banget tuh dapetin film2 yg warnyanya biru itu, bikin tambah stress lagi. Pernah lagi cari barang di pasar, lewatin lapak2 yg jual DVD, wah, musti pinter2 deh pake siasat supaya si anak matanya ngga sampe ngeliat gambar2 di sampul DVD itu...ngajak dia ngobrol seru dan tarik tangannya supaya cepet2 lewat dr situ.

Belum lagi masalah bacaan, komik2nya tuh, penerbitnya ngga pake rating punya, pukul rata aja pokoke komik ya untuk anak2, ngga peduli isinya adegan ranjang .
Lalu kalo lewatin penjual majalah juga kudu ati2, soalnya Donal Bebek bisa bersebelahan sama Playboy tuh. Mentang2 si Donald juga ngga pake celana kali ya.

Oya, soal games juga bikin serem. Kasian deh banyak ortu yg ngga ngerti, asik aja ngisi games di PS anaknya tanpa perhatiin rating gamesnya. Belom lagi games online, yang tokohnya suka seksi2 banget kostumnya .

Rekreasi

Dulu belum jaman banyak mall, kayanya kalo rekreasi suka nya ke Taman Ria, Ragunan, Monas. Kalo yg jauhan ya ke Lido , Cibodas, Puncak .
Sekarang kalo ditanya mau kemana, pasti jawabnya mau ke Mall, main di Timezone, makan es krim Baskin Robbin, HokBen , Mc Donald, Pizza Hut...

Trus mampir (tepatnya dipaksa mampir karna tangannya udah ditarik2 anaknya) ke Kid Station, liat2 mainan import, ya Hotwheels lah, Transformer lah. Sementara jantung mamanya berdegup2 gara2 liat harga mainan nol nya banyak banget...

Gaul

Soal gaul juga musti diawasin nih, hari gini anak ingusan aja ba nyak yg diperkosa .Penculikan juga banyak. Punya temen akrab sesamacowo takut homo, punya temen akrab cewe takut ntar terjadi pernikahan dini. Belum lagi pemalakan di sekolah , peredaran narkoba di kantin, tawuran, pelajar plus (ayam malam). Saing2an model HP, kendaraan, nongkrong di pool, bla..bla..

Nah, begitulah kira2 gambaran perjuangan seorang Ibu jaman sekarang. Gimana, beraaaaat kan? Biarpun berat, anak adalah titipan yang amat sangat berharga. Makanya tugas dijalanin aja dengan riang gembira. Do the best you can. Jadilah ibu yang bisa dibanggakan oleh anak2 kita .Jangan lupa, seorang Ibu cuma manusia biasa yang tidak bisa mengawasi anak2nya 24 jam sehari. Karena itu berdoalah, mohon perlindunganNya selalu terhadap anak2 kita.
Ingat, semua dimulai dari ibu, bukan dari nenek, atau babysitter atau pembantu. Masa depan anak kita tergantung pada kita. Hidup ibu .....!!!


ReviewReviewReviewReviewReviewUngkapan Sederhana Untuk Istri TercintaSep 5, '07 6:21 AM
for everyone
Category:Other
Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
By M. Fauzil Adzim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lag.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa
merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali
belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu
saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak
anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak
Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak
pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu
pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh
kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh
bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk
mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka
bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada
kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin
sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin
juga dengan tindakan-tindakan l